Pencerahan Apa Itu Scrum?

Sebelum mengenal Scrum, saya telah mengenal XP atau eXtreme Programming lebih dahulu sekitaran tahun 2000–2001. Pertama kali dikasih link mengenai XP di http://www.extremeprogramming.org/oleh mantan boss saya di tahun itu, saya belum paham apa gunanya. Saya waktu itu masih kuliah sambil kerja.

Beberapa-tahun kemudian, sekitaran 2003-an, Agile dan eXtreme Programming mulai nge-trend. Dan saya pernah mencobanya di salah satu project dan menggunakan NUnit sebagai toolsnya. Semua team member membuat automatic unit test. Namun, sekitaran 2013 ketika membaca buku The Art of Unit Testing yang ditulis Roy Osherove, saya baru paham automated test yang saya dan tim buat waktu itu bukanlah unit test tapi integration test.

Sekitaran, 2013–2014 saya ikut salah satu mailing list lokal mengenai Scrum. Kalau tidak salah namanya scrum-indonesia@yahoogroups.com. Di situ salah satu dedengkot Scrum mengkampanyekan Scrum adalah lawan dari Waterfall. Dan menunjukkan kelebihan Scrum dibanding Waterfall dalam hal project management dan dalam hal software engineering methodology. Ya, itulah pemahaman saya waktu itu dan mungkin juga pemahaman banyak orang sampai saat ini, tahun 2020. Dan saya sangat skeptis dengan Scrum waktu itu.

Di tahun 2017 saya join salah satu startup unicorn di Indonesia, yang ijo-ijo. Startup tersebut sangat dikenal sebagai pendukung Scrum karena meng-hire seorang Scrum coach yang juga lawan diskusi di milist scrum-indonesia. Selama bekerja di startup tersebut, saya kaget sekali. Karena itu adalah perusahaan paling berantakan yang pernah saya masuki. Saya ingat keceplosan mengatakan itu di depan CTO-nya, hahaha. Waktu itu adalah review 3-month probation saya. Dan saya ingat sekali dia pasang poker face dan cuma matanya saja yang bergerak-gerak. Duh, saya orang Betawi, orang pesisir yang terbiasa ceplas-ceplos. Jadi saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, cuma bermaksud mengutarakan fakta. Anyway, saya sudah belajar untuk menahan diri sekarang, hihihi.

Selepas dari unicorn ijo-ijo saya makin yakin, Scrum itu adalah pembohongan publik. Tapi sebelum saya beriman kepada kesimpulan saya tersebut, saya ingat ada seseorang bernama James Coplien yang pernah membuat essay yang sangat logis dan bagus berjudul Why Most Unit Testing Is Waste. Saya pingin tahu, mengapa orang yang sangat logis seperti beliau tapi malah menuliskan title Scrum Coach di LinkedIn profil-nya?

Lalu, saya coba diskusi lewat LinkedIn status dengan beliau. Dan di situlah saya mendapatkan pencerahan awal apa itu Scrum? Walaupun barang atau wujudnya masih samar-samar namun semangat dan tujuan yang dijelaskan James sangat menarik. Saya pun mulai melakukan riset lebih dalam. Sewaktu megubek-ubek informasi mengenai Scrum, ternyata di salah satu videonya di Youtube. James, berkata bahwa orang-orang XP pernah mengirim email kepada beliau, minta pencerahan mengenai Scrum karena mereka mau jualan metodologi, yaitu XP. Dan James kesal karena orang-orang XP salah mengerti tentang Scrum.

Di awal 2019 saya menjadi project lead untuk pengembangan aplikasi Diary Bunda. Di situlah saya mulai belajar sedikit-sedikit mengenai product management sambil terus riset soal Scrum. Dan semakin kemari, di penghujung 2020 ini pemahaman saya mengenai Scrum semakin membaik. Ternyata, Scrum bukanlah metodologi atau pun project management. Scrum adalah framework (kerangka bekerja). Scrum adalah kerangka bekerja untuk memecahkan masalah kompleks yang adaptif. Apa itu? Pasti bingungkan membacanya?

bersambung….

Journeyman to Scrum Master

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store